https://diarywinrie.com diary winrie: Misteri gua kasah (part 5)

Minggu, 17 Juli 2022

Misteri gua kasah (part 5)

Misteri gua kasah

Perjalanan 3 Km menuju gua serasa begitu lama. Karena memang sudah tidak sabar mau sampai di Gua. Perjalanan ini melewati beberapa rumah, sawah dan kebunnya warga. Kami juga menjumpai beberapa warga kasah yang sedang bekerja. Mereka sangat ramah dan memanggil kami untuk mampir di pondok. Meski tidak kenal dengan kami, tetapi keramahan dan kekeluargaan sangat terasa di Desa Kasah ini.

Akhirnya kami sampai di pintu Gua Kasah. Pintu nya kecil dan hanya bisa dilewati satu orang secara bergantian. Pelatih kami adalah orang pertaman yang masuk kedalam Gua. Dilanjutkan dengan Bang Dona, Bang Andi yang saat itu juga membawa lampu togok. Kami masuk secara bergantian sampai semua sudah didalam gua. Kami mulai menyusuri gua.

Pertama masuk kami menemui ruangan yang sangat lebar dan lapang. Kemudian melanjutkan penyusuran ke ruangan-ruangan kecil. Pada dinding gua terdapat banyak tulisan kuno dan lukisan. Kabarnya gua ini dulu digunakan sebagai tempat tinggal manusia purba. Dan di tengah-tengah gua terdapat batu besar seperti kursi. Dari cerita pelatih kami kursi itu adalah kursi raja saat itu.

Kami masuk ke ruangan yang agak sempit untuk masuk pun hanya bisa satu persatu, dan sampailah kami kedalam ruangan kecil seperti kamar. Kami tidak di perbolehkan berlama-lama disini karena ruangan begitu sempit dan tidak ada celah udara masuk. Pelatih mengkhawatirkan oksigen yang kami hirup terbatas.

Kami pun keluar dan melanjutkan penelusuran ke ruangan lain. Di langit-langit gua dan dinding gua banyak kelelawar yang bergantungan. Bau didalam gua juga tidak sedap. Udara didalam gua terasa dingin dan sangat gelap. Kami hanya menggunakan penerangan dengan lampu togok dan senter yang sudah kami siapkan.

Melanjutkan penelusuran Bang Andi yang paling didepan sebagai penerang mualai berjalan. Tiba-tiba salah satu anggota kami berteriak. “hati-hati andi, ada ular di kaki andi”.

Saya sendiri tidak tahu pasti itu suara siapa. Saya langsung melihat ke kaki Bang Andi. Saya tidak melihat ular. Apa memang benar ada ular atau ularnya sudah pergi. Sungguh saya tidak melihatnya. Sementara Pelatih juga langsung menyenter ke kaki Bang Andi. Terus pelatih berkata “tidak ada apa-apa. Ayo kita lanjutkan melihat ke arah sana”.

Kami berjalan dan jujur saya merasa was-was dan takut. Karena melihat kami sudah mulai cemas dan gelisah. Pelatih menginstruksikan “bagi yang perempuan silahkan menunggu di ruang pertama di ruang besar tadi dan ditemani oleh Nova, tidak usah kemana-mana tunggu saja kami di sana”.

Kami pun menjawab “siap, Pelatih”.

Saya, gus, tin, ayu, suci, heyde dan Bang Nova memutar arah untuk kembali ke ruang pertama. Saya tidak mengerti apa memang beresiko kalau kami ikut melanjutkan penelusuran ruang-ruang di gua atau memang Pelatih tahu kami mulai cemas. Di ruang pertama kami hanya menikmati lukisan-lukisan yang indah di dinding gua. Terus mengambil poto waktu itu masih menggunakan kamera biasa. Belum ada handphone yang secanggih sekarang.

Sekitar 15 menit kami menunggu, Pelatih dan teman-teman datang. “Ayo kita keluar lagi sudah mau dzuhur, kita akan cari tempat istirahat sholat dan makan siang. Lalu kita lanjutkan perjalanan pulang”. Kami hanya mengangguk.

Kali ini Bang Dona paling pertama menuju pintu keluar. Bang dona berhenti dan berkata “tunggu dulu, diam saja di tempat”. Seeerrr jantung memompa lebih kencang ada apa ini. Kenapa Bang Dona tidak jadi keluar. Bang Doan turus menghampiri Pelatih dan berbisik. Sungguh bikin tambah penasaran.

Pelatih naik menuju pintu keluar bersama Bang Dona. Kemudian turun lagi mendekati kami. Pelatih hanya mengarahkan kami untuk memulai berdoa, minta maaf mungkin kami aa salah selama di dalam Gua dan minta perlindungan kepada Allah. Karena kami belum bisa keluar. Tepatnya di depan pintu masuk melingkar ular yang sangat besar dan menutup akses untuk keluar.

Allahuakbar, allah maha besar. Semua makhluk adalah milikNya. Maka dengan khusuk dan sepenuh hati Pelatih memimpin doa dan meminta kepada Allah agar ular itu menjauh dari pintu keluar agar kami bisa keluar dari Gua. Setengah jam kami habiskan dalam ketakutan dan kecemasan. Takut ularnya masuk ke dalam Gua dan tidak mau pergi. Kami mau sembunyi dimana.

Kami terus melantunkan doa dalam hati, sambil membaca ayat kursi dan surat-surat pendek. Ya allah selamatkan kami, jauhkan kami dari marabahaya. Izinkan kami keluar dan kembali ke rumah dengan selamat. Itu doa yang terucap berulang-ulang.

Pelatih tetap di posisi paling depan sambil berdoa dan mengamati ular tersebut. Berlahan ular mulai memutar arah kepalanya ke arah kanan. Kepalanya mulai menjauh ke kanan tetapi ekornya dan badannya masih dekat pintu.

Pelatih memastikan kami sudah bisa keluar satu persatu tetapi tidak boleh melihat kearah kanan dan ketika keluar harus berhati-hati. Jangan sampai ada suara dan batu atau tanah yang jatuh. Fokus pada jalan yang Pelatih tunjuk sampai ke bawah di jalan yang biasa dilalui warga baru berhenti dan menunggu di sana.

Pelatih meyakinkan yang pertama adalah Bang Dona, selanjutnya Andi, Febi, Ebi, Ayu, Saya, Gus, Armaizal, Ari, Tin, Suci, Heyde dan seterusnya sampai urutan terakhir Bang Nova dan Pelatih.

Asli kaki menggigil lewat jalan yang sempit inin tidak boleh melihat kekanan dan harus sangat hati-hati. Jangan sampai ada benda yang jatuh. Menegangkan memang, penuh tantangan. Tantangan melawan rasa takut.

Alhamdulillah semua bisa keluar ketika kami mau pergi saya mencuri pandang ke arah pintu masuk melihat ular yang melingkar begitu besar. Astagfirullah kalau semapt salah satu dari kamim dililitnya. Entah apa jadinya kami di sini.

Ucapan syukur kami lantunkan sepanjang perjalanan menuju rumah juru kunci Gua. Pelatih bilang kami akan beristirahat disana untuk sholat dan makan siang. Sekalian Pelatih mau minta tolong untuk menyelamatkan sendal-sendal kami yang sengaja ditinggal di pintu masuk tadi. Dirumah juru kunci gua kami sholat bergantian dan makan bersama-sama dengan alas makan daun pisang yang kami susun memanjang. Lalu kami menumpahkan bekal kami ke daun pisang tersebut.

Entah memang lapar atau masih trauma dengan kejadian tadi. Kami makan begitu lahap dan menghabiskan makanan. Sambil makan kami masih di hibur dengan leluconnya Bang Nova. Selesai sholat dan makan juru kunci gua pun sudah kembali bersama Pelatih kami membawa plastik hitam yang berisi sendal-sendal kami.

Beliau bercerita bahwa ularnya sudah diusir dan pergi. Beliau menyatakan penampakan ular tadi karena ada kesalahan kami di dalam Gua. Diantara kami ada yang berbicara tidak wajar jadi penghuni Gua marah dan menampakkan diri. Mungkin selama dalam Gua kami banyak ketawa ketiwi. Sehingga mengabaikan pesan Pelatih.

Kami minta maaf kepada juru kunci gua. Pelatih kami pun mewakili kami semua meminta maaf atas perbuatan perkataan kami. Kemudian berpamitan untuk pulang. Kami pulang dengan lega. Sekarang petualangan menuju mobil jemputan pun di mulai. Kaki sudah muali terasa lelah melangkah, badan terasa lelah. Tetapi mau bilang apa, tetap harus berjalan.

Lelucon Bang Nova dan kawan-kawan sudah tidak seseru tadi pagi ketika berangkat karena tenaga untuk tertawa sudah mulai berkurang karena lelah. Penyemangat saya untuk terus berjuang berjalan adalah tongkat kayu yang diberikan Bang Nova sekali –kali dia menarik tongkat saya dari depan seolah memberi semangat. Sebentar lagi sampai. Menawarkan minum dan jajanan ke saya, untuk mengalihkan rasa capek saya.

Alhamdulillah akhirnya sampai di Mobil jemputan. Jam sudah menunjukkan waktu sholat Ashar. Pelatih meminta kami membersihkan diri di sungai kecil dan mengganti pakaian. Lalu berwudhu dan sholat berjamaah. Sholat berjamaah akan diimami oleh Pelatih dan tak lupa beliau menyampaikan jangan lupa berdoa dan berterimakasih kepada Allah atas keselamatan kita hari ini.

Selesai sholat kami masuk kedalam mobil dan tidak lupa memasang jaket. Semakin sore cuaca di Kayu Aro akan semakin dingin. Jaket adalah pilihan terbaik untuk menghangatkan badan. Mobil melaju saya pun tertidur sakin capeknya. Tanpa sadar sudah sampai di tempat latihan kami. Tempat kami memulai keberangkatan.

Jam sudah menunjukkan jam 17.45 Wib sebentar lagi mau adzan maghrib kami bergegas mau pulang. Sebelum pulang kata-kata terakhir yang saya dengar dari Bang Nova “Win, apa yang terjadi hari ini, bukan sekedar gurauan, Abang serius” sambil tersenyum kepada saya.

Allah lesung pipitnya membuat saya terbang ke angan-angan dan semangat lagi. Ini bukan mimpi. Gus yang berada di sebelah saya, “ehm, cie cieee, alhamdulillah senang dengarnya”.

Bang Nova menepuk pundak saya sambil berkata “sampai ketemu besok ya win, hati hati dijalan”.

Muka langsung merah dan merasa tidak percaya dengan semua ini. Lagi lagi saya adalah tipe orang yang tidak mau berharap banyak. Saya masih menganggap ini sebuah lelucon bukan kenyataan.

Perjalanan menuju rumah Gus dengan semangat menceritakan apa yang kami alami hari ini. Karena memang dia yang tidak lepas dari saya seharian ini. Kami sekelompok dan dia yang paling tahu kejadian hari ini. Dia menyampaikan kepada Tin dan Ayu bersiaplah untuk mentraktir tiga hari kedepan. Bang Nova sudah jadian dengan teman kita. Taruhan berakhir, sungguh di luar dugaan.

Ada kesal dari tiga sahabat saya karena harus mentraktir dan ada bahagia karena akhirnya mereka berhasil menjadi mak comblang. Hehe.

Malam ini begitu sulit mata terpejam entah memang kelelahan atau masih belum bisa melupakan senyuman terakhir Bang Nova sore tadi. Hanya allah yang tahu isi hati dan seluruh rasa ini. Semakin tidak sabar menunggu hari esok bertemu dengan Bang Nova seperti kata-kata terakhir samapai ketemu besok ya win. Kata-kata yang masih tengiang jelas dan menyisakan harapan. Semoga tidak bertepuk sebelah tangan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3 K dalam Hidup

Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji hanya milik Allah. Dia yang maha atas segala. Memberikan apa-apa yang menjadi kebutuhan kita, bukan k...