https://diarywinrie.com diary winrie: Misteri gua kasah (Part 4)

Minggu, 17 Juli 2022

Misteri gua kasah (Part 4)

Misteri gua kasah part 4

Minggu, hari yang kami tunggu-tunggu. Semua bersemangat untuk menuju Gua Kasah yang terletak pada Desa Renah Kasah, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi. Desa Kasah hanya bisa dicapai dengan jalan kaki karena sebagian jalannya masih rawa-rawa yang di tutupi dengan papan dan kayu-kayu. Mobil hanya sampai pada Desa Sungai Sampun. Selanjutnya kami akan berjalan kaki menuju Desa Kasah.

Fisik yang kuat dan bekal yang cukup menjadi modal utama untuk melanjutkan perjalanan. Melihat medan yang lumayan sulit untuk kami lewati. Apalagi untuk cewek cewek lumaya merasa agak ngeri-ngeri sedap. Kalau tidak hati-hati memilih jalan bisa masuk kedalam raa. Yang kedalaman saya sendiri tidak tahu tepatnya berapa. Pastinya dalam karena menjadi pesan dari Pelatih kami saat briefing memberi arahan kepada kami.

Saat pelatih memberi pengarahan beliau menyampaikan beberapa hal : satu agar kami tidak memisahkab diri dari rombongan, tetap dalam rombongan dan sering-sering menghitung jumlah teman saat itu kami berjumlah 15 orang dengan pelatih. Kedua untuk menjaga pembicaran kami tidak boleh ngomong aneh-aneh dan takabur. Ketiga menjaga etika, sopan santun saat masuk ke gua. Keempat bekal dan alat bawaan dijawa sendiri tidak boleh ditinggalkan karena kemungkinan nanti kami akan makan siang dan istirahat di perjalanan. Ke lima saling mengingatkan jika teman salah dan tidak boleh sombong. Ke enam beliau meminta kami untuk berdoa agar allah berikan perlindungan dan menjaga kami selama perjalanan.

Saat memberi pengarahan Beliau tidak menyampaikan misteri-misteri yang ada di Gua Kasah ini. Beliau hanya mengatakan Gua Kasah masih sangat sakti jadi kita nanti akan menemui juru kunci terlebih dahulu untuk meminta izin masuk kedalam gua. Meskipun demikian kita tetap menjaga sikap dan perkataan serta berdoa kepada Allah. Seketika bulu kuduk saya berdiri. Merasa takut dan semakin penasaran dengan Gua Kasah ini.

Terakhir sebelum melanjutkan perjalanan. Pelatih meminta Bang Dona sebagai ketua rombongan bertanggung jawab untuk keselamatan anggota dan jumlah harus sam ketika berangkat dan pulang. Membantu teman-teman yang membutuhkan pertolongan dan memastikan kami semua dalam keadaan sehat dan siap melanjutkan perjalanan. Kemudian ketua rombongan diminta memimpin doa. Bang dona pun mengambil alih doa dan menyuruh kami berhitung dimulai ndari satu, dua, tiga sampai tiga belas. Artinya anggota kami empat belas orang termasuk Bang Dona dan lima belas dengan Pelatih.

Bang Dona membagi tanggung jawab untuk anak laki-laki yang berjumlah 8 orang untuk satu kelompok ada 3 perempuan dan 4 laki-laki. Saya sendiri sekelompok dengan Gus dan suci sedangkan anak laki-lakinya ada Febi, Ebi, Bang Nova dan Bang Andi. Sreek, ada dag dig dug deerr. Sekelompok dengan Bang Nova seolah Allah menjawab doa menjawab tantangan teman-teman.

Bismillah, tantangan teman-teman bukan tujuan. Tujuan adalah bisa sampai dengan selamat ke Gua Kasahn dan kembali pulang pun dengan selamat. Aamiin.

Perjalanan kamipun dimulai. Paling depan Bang Dona dibelakangnya Bang Andi selanjutnya Gus, dibelakangnya Gus ada Bang Nova dibelakangnya ada saya, dibelakang saya ada Febi, dibelakang febi ada Suci begitu setersunya sampai paling belakang Pelatih kami. Kami tida bisa berjalan berdampingan karena jalannya hanya ada sehelai papan yang harus kami lewati sehingga harus membuat barisan.

Perjalanan kami lewati dengan bercerita banyak hal. Bang Nova banyak bertanya tentang saya, sementara saya hanya menjawab apa yang dia tanya. Kok jadi malu-malu seperti ini ya. Apa yang saya bayangkan dan harapkan ingin membuktikan saya bisa mendekati Bang Nova malah menjadi nol besar. Sulit mencairkan suasana. Merasa kaku, takut dan malu. Detakan jantung semakin kuat ketika dekat dengan dia.

Waduuh, mungkinkah saya benar-benar sedang jatuh cinta padanya. Panas dingin ga karuan. Ngomong ga jelas. Sungguh ga sesuai ekpektasi. Tadinya membayangkan akan santai dan bisa ngobrol lebih dekat malah sudah dekat ambyaaar hilang konsep. Hehee.

Perjalanan menuju gua tidak terasa apa karena senang dekat Bang Nova atau karena fokus menajawab pertanyaannya. Hehe. Macam-macam yang Bang Nova tanyakan sekilas terkesan PDKT(pendeketan) tetapi sekilas terkesan hanya ingin mencairkan keadaan. Ah entah apapun itu. Saya takut Geer (Gede Rasa) dan berharap. Saya hanya perlu membuktikan saya bisa mendekati Bang Nova ke teman-teman tidak boleh lebih takut kecewa.

Sepanjang perjalanan kami bercerita dan tertawa karena Bang Nova memang terkenal humoris dan suka lelucon. Jadi kami sekelompok sering tertawa terbahak-bahak kalau dia bercerita. Sekali-kali kami berhenti untuk minum karena haus dan makan jajanan yang kami bawa.

Selain membuat lelucon, dia juga menyelipkan rayuan gombal nya untuk saya. Yang laur biasa berhasil membuatb muka saya merah semua dan malu. Dia tibatiba mengambil bunga kruduk (bahasa kerinci) bunga yang berwarna ungu dan ada buahnya yang berwarna ungu juga. Jika sudah matang buah nya akan pecah dan bisa dimakan. Kalau kita makan maka mulut dan bibir akan berwarna ungu.

Dia memberikan bunga tersebut kepada saya, katanya sebagai bukti cinta. Ototmatis teman tertawa semua. Apalagi Gus dan Suci teman sekelompok saya langsung. Ciieeee, terima, terima terima. Sambil bersorak dan mendorong saya maju. Saya malu, bingung menunduk. Ga tahu mau tarok dimama muka saya. Saya kehilangan nyali.

Dorongan gus lumaya kuat membuat saya maju dan mengambil bunag tersebut. ini terpaksa atau memang suka. Haduh kok jadi makin ribert semua rasa di hati ini. Semakin berbunga-bunga. Apakah ini benaran atau sekesar lelucon. Mengingat karaktek Bang Nova yang hobbynya melawak saja.

Pemandangan di perjalanan sebenarnya indah. Tetapi saya tidak menikmati indahnya kebun kulit manis yang berjejer dikiri dan kanan jalan. Saya hanya menikmati rasa yang tidak jelas dan semakin tidak jelas ini. Diperjalan kami juga melewati perbukitan. Di bukit kami bisa melihat Desa Kasah yang hendak kami tuju. Masih sedikit sekali penduduk di sana tercemin dari rumah-rumah penduduk belum banyak. Hanya ada beberapa saja. Desa Kasah ini dingin karena dilingkari oleh perbukitan. Udaranya sejuk dan airnya jernih sekali.

Semakin dekat menuju desa saya pun merasa semakin dekat menuju apa yang di impikan dan citakan. Menjawab tantangan teman-teman setidaknya nanti sudah ada kejelasan hubungan saya dan Bang Nov. Selain itu keinginan melihat indahnya Gua Kasah.

Akhirnya kami sampai pada rumah juru kunci Gua Kasah yang berjarak sekitar 3 km dari Gua Kasah. Pelatih kami masuk dan meminta izin untuk masuk ke Gua Kasah. Beliau pun melakukan ritual seperti yang saya lihat memberikan sirih beserta pinang kepada Juru Kunci. Kemudia juru kunci membaca mantra entah apa saya tidak paham dan tidak mengerti karena saya hanya melihat dari luar di atas kerenda.

Kerenda adalah istilah untuk panggung yang berada di depan pintu rumah panggung, untuk samapi di kerenda kita harus menaiki tangga rumah dan sampai di kerenda. Biasanya kerenda digunakan sebagai tempat menaruh sendal. Kerenda biasnya juga dilengkapi kursi yang terbuat dari kayu atau papan. Kursi sebagai tempat duduk di sore hari setelah mandi atau pulang dari kerja di ladang. Nah disini lah kami duduk.

Kami tidak bisa masuk semua kedalam karena ukuran rumah juga tidak begitu besar hanya ada 3 ruangan. Ruang dapur, kamar tempat kasur dan ruang tamu yang berukuran 3 x 2 meter. Setelah selasai minta izin kami melanjutkan perjalanan menuju Gua. Sekarang yang di depan adalah Pelatih kami kami mengikuti dari belakang.

Semakin dekat ke gua semakin cemas dan takut sekaligus penasaran. Bagaiamana bentuk keindahan ngua seperti yang diceritakan (cerita bersambung).

1 komentar:

  1. Wah...seru banget, nih kayanya, mba. Aku senang banget tempat2 yg kaya gini. Tapi kalo ke dalam gua belum pernah. Pingin juga tau secara langsung dan liat dalemnya.

    BalasHapus

3 K dalam Hidup

Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji hanya milik Allah. Dia yang maha atas segala. Memberikan apa-apa yang menjadi kebutuhan kita, bukan k...