https://diarywinrie.com diary winrie: Misteri Gua Kasah (Part 2)

Minggu, 17 Juli 2022

Misteri Gua Kasah (Part 2)

Misteri gua kasah part 2

Sepulangnya dari latihan Minggu ini, sedikit pun saya belum punya keberanian menyodorkan permohonan surat izin untuk ikut kegiatan ke Gua Kasah. Surat izin orang tua tersimpan rapi di tas ransel saya.

Senin, selesai upacara bendera. Tin, Gus dan Ayu mulai membahas tentang izin yang sudah mereka dapatkann dari kedua orang tua mereka. Sementara saya masih takut untuk membahas ini dengan Amak dan Apak. Saya hanya bisa diam mendengar cerita mereka ketika meminta izin.

Kemudian Gus bertanya “Win, udah dapat izin belum?”

Saya masih diam dan hanya menggelengkan kepala.

Tin pun berkata “Ayolah, kita harus berangkat semua. Ga seru kan kalo ada yang tidak berangkat”.

“ Ya benar, dari awal kita latihan sama-sama. Jadi apapun kegiatan di Karate kita lalui sama-sama. Tunjukkan lah kalau kita kompak. Ya kan kawan-kawan!” Ayu menambahkan.

Saya hanya menjawab “Insyaallah nanti malam, saya tanya sama Amak, doakan ya kawan-kawan”. Sambil pegi meninggalkan mereka menuju ke kelas saya, karena Bu guru Matematika sudah berjalan menuju Kelas saya.

Seharian belajar di Kelas tidak konsentrasi sedikitpun. Pikiran masih pada selembar kertas putih yang disimpan dalam tas di Rumah. Memikirkannya begitu menguras energi dan mulai menyusun kata-kata.

Akhirnya malam pun sampai, ba’da Maghrib saya ke ruang keluarga tempat Apak, Amak dan kami sekeluarga berkumpul. Biasanya untuk menonton televisi bersama. Saya pun memberanikan diri “Mak, rencananya hari minggu semua anggota Karate berangkat ke Gua Kasah. Tidak ada paksaan dari Pelatih harus ikut. Kalau orang tua tidak mengizinkan tidak apa-apa tidak ikut. Tetapi teman-teman saya sudah mendapat izin semua dan akan ikut. Apa saya boleh ikut Mak?”

Amak diam sejenak sambil membaca surat izin yang saya sodorkan.”...berangkatnya kapan? Apa harus menginap di sana?” tanya Amak.

“berangkatnya Minggu ba’da shubuh,berkumpul di tempat latihan, nanti naik mobil ke Kayu Aro baru melanjutkan perjalanan ke Kasah. Kabarnya sekitar 2 jam jalan kaki” jawab saya.

“Apa sanggup jalan kaki 2 jam? Itu jauh lho!” kata Amak.

“insyaallah kalau Amak dan Apak izinkan saya sanggup” meyakinkan Amak dan Apak.

“kalau sanggup ya tidak apa-apa, berangkatlah. Cuma harus hati-hati di sana masih sakti, bicara dan tingkah harus di jaga. Jangan aneh-aneh dan bicara takabur” Amak sedikit menjelaskan keadaan di sana.

“iya, Mak” jawab saya.

“Nanti jalan kesana itu lumayan jauh mendaki bukit dan melewati rawa-rawa. Jangan nangis kalau tidak sanggup jalan. Jalan sampai merepotkan kawan-kawan. Kalau jalan seperti itu harus kuat dan semangat. Tidak boleh mengeluh sepulangnya nanti. Kalau kaki dan seluruh badan sakit-sakit” Amak memastikan saya siap dengan semua resiko.

“Iya Mak” jawab saya meyakinkan dan semakin semangat untuk mendapatkan izin.

Akhirnya Amak dan Apak menanda tangani surat izin saya. Apak tidak banyak komentar hanya mengingatkan “Hati-hati kalau mau jalan ke tempat seperti itu. Jaga sikap dan bicara itu sangat penting” pesan Apak.

Saya pun menjawab “insyaallah Pak”.

Bahagia sekali mendapatkan izin ini serasa mendapat durian runtuh. Sungguh saya sendiri tidak menyangka Amak dan Apak akan memberi izin meski dengan rentetan persyaratan yang harus saya terima. Tidak masalah bagi saya asal bisa berangkat. Semakin ga sabar menunggu hari esok bertemu teman-teman di Sekolah menyampaikan berita bahagia ini.

Keesokkan harinya saya berangkat ke sekolah lebih pagi. Di sekolah belum ada teman-teman saya. Saya pun duduk di Kelas sambil membuka buku pelajaran pertama hari ini Fisika, meski lonceng masuk belum berbunyi.

Tidak lama kemudian Ayu lewat “hai win”. Saya pun menjawab “hai, udah sampai ya”. Ayu hanya tersenyum dan sepertinya ingin bertanya sesuatu yang saya yakin pasti tentang surat izin.

“Gimana udah dapat izin belum?” Ayu bertanya dengan semangat.

“Coba tebak, menurut Ayu gimana?” jawab saya dengan wajah datar.

“Kalau tebakan saya pasti tidak di bolehin, ya kan ?”

Sebelum saya menjawab Ayu langsung menyambung kata-katanya.

“Ga yakin Etek akan memberi izin karena kamu kan mudah demam pasti Etek takut kalau kamu sakit Win” tambah Ayu.

Dalam hati benar juga apa yang disampaikan Ayu. Saya memang tipe yang mudah demam dan mimisan. Kena panas terik matahari, bisa mimisan. Minum air es bisa demam dan mimisan. Sehingga dari kecil saya tidak bisa terlalu bebas ikut bermain dengan teman-teman sepermainan. Seperti ikut mandi sungai atau berjemur di pinggir sungai main pasir atau tanah liat.

Pernah nekad ikut dan tidak memberi tahu Amak. Tetap malam saya tidak bisa berbohong pasti akan demam dan mimisan. Kalau sudah seperti ini Amak akan ngomel dan melarang untuk main jauh-jauh. Tidak boleh panas-panasan. Jadi teman-teman saya sudah tahu dan takut juga ngajak saya kalau mereka main di Sungai.

Tindia dan Gus datang, “eh win, gimana?” tanya Gus. “Ikutkan?” kata si Tin.

“coba tebak? Amak jawab Apa?” kata saya.

“cepatlah win, kita kan penasaran.” Ayu mendesak dan sangat penasaran.

‘Yang tebakannya benar tak traktir makan bakso nanti siang” saya makin mebuat mereka penasaran. “Siapa yang mau nebak duluan?”

Tin jawab “ ga dapat “.

Gus menegaskan” ga boleh ya win!” dengan raut sedih dan kecewa.

Ayu juga memastikan “mana boleh anak kesayangan ikut kegiatan seperti itu”.

Sedikit pun saya tidak merubah raut wajah saya, tetap datar dan tidak membuiat curiga mereka. Saya pun akhirnya menjawab rasa penasaran mereka “sebenarnya Amak dan Apak...”

Saya menjeda sebentar mereka semakin mendekat dan tidak sabar mendengar penjelasan saya. “sebenarnya Amak dan Apak memberikan saya izin” sambil tersenyum saya sampaikan.

“Alhamdulillah” kata mereka serempak.

“Senangnya jadi kita bisa berangkat bersama. Nah gitu dong kalau teman susah senang bersama” Ayu yang paling bahagia.

Kami berpelukan saling menguatkan. Kami bisa berangkat bersama nanti ke Gua Kasah, semoga tidak ada halangan sampai hari H. Semoga kami diberi kesehatan untuk bisa melakukan perjalan ke Gua Kasah bersama teman-teman Karate (cerita bersambung).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3 K dalam Hidup

Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji hanya milik Allah. Dia yang maha atas segala. Memberikan apa-apa yang menjadi kebutuhan kita, bukan k...