https://diarywinrie.com diary winrie: dari genggaman pasir

Minggu, 10 Juli 2022

dari genggaman pasir

Genggaman pasir

Bismillahirrahmanirrahim. Liburan akan segera berlalu. Desakan untuk jalan ke pantai selalu hadir di setiap pagi dari anak-anak. “Ma, ayok kita ke pantai !”

Hampir setiap pagi mereka mengajak dan meminta sambil merengek. Berharap Mama meliburkan diri berangkat kerja. Karena memang saya sendiri yang tidak ada libur kecuali hari minggu dan hari besar nasional.

Cuti tinggal rencana  

Mama oh mama rencana cuti hanya tinggal rencana. Belum lagi mau ngusulkan cuti sudah dapat amanah baru dan baru yang punya deadline harus di selesaikan. Terkadang merasa kasian dengan diri ini. Seolah tak boleh berhenti bekerja dan berkarya. Seolah hidup hanya untuk bekerja. Ups ini sadis banget saya ga bisa terima.

Sesibuk-sibuknya saya bekerja sholat wajib di awal waktu selalu menjadi prioritas dan tempat istirahat yang paling menenangkan bagi saya. Sholat sebagai tepat mengisi ulang energi yang terkuras dari pagi. Mendinginkan otak yang sudah panas dengan permasalahan. Menenangkan hati yang sudah krasak-krusuk mengurus urusan dunia dan sholat sebagai tempat meminta petunjuk dan bimbingan Nya. Semoga istiqomah menjaga sholat di awal waktu. Aamiin.

Pantai dan Pasir

Kembali ke topik pantai menjadi pilihan kami di akhir minggu. Ini terbilang sudah agak lama tidak ke pantai Mukomuko. Terakhir lebaran kemaren. Anak-anak suak main di pantai karena mereka senang main pasir dan mandi air laut. Kadang mereka main bola dengan Papanya di pasir pantai.

Biasanya ketika mereka asik bermain pasir dan mandi saya hanya akan menjadi sesi dokumentasi dan mengejar ngejar mereka untuk mengambil poto. Kalau lagi tidak rame saya juga ikut main pasir dan mandi di laut.

Kami juga sering menulis di pasir dan sesekali menggenggam pasir. Nah disinilah awal mula muncul sebuah ide.

Menggenggam pasir

Ketika menggenggam pasir, seperti menggenggam angin. Satu persatu butiran pasir akan jatuh terbawa angin sehingga hanya akan menyisakan sedikit pasir yang berada di tengah genggaman.

Pasir mengingatkan kita tidak bisa terlalu banyak memegang perkara dalam satu genggaman. Karena semua akan terlepas dengan sendirinya. Tidak peduli seberapa kuat kita menggenggam dan seberapa ngotot kita mempertahankan.

Kerakusan pun kadang membuat kita berusaha dengan berbagai cara. Mempertahankan apa-apa yang sudah dalam genggaman. Tetapi angin akan datang meniupnya pergi.

Dari genggaman pasir kita belajar mengikhlaskan dan merelakan apa-apa yang sudah dalam genggaman untuk pergi bahkan mungkin tak kembali.

Dari pasir kita belajar untuk hati-hati dalam membuat pilihan atas apa yang kita inginkan tetap tinggal selayaknya pasir yang tersisa beberapa saja di tengah genggaman.

Genggamlah semua tujuan yang menjadikan mu ingat akhirat dan lepaskanlah semua tujuan yang membuat mu terlena dengan dunia dan melupakan kampung akhirat. Karena semua hanyalah sandiwara dan tipuan dunia saja.

Berjuanglah dengan apa-apa yang belum Allah jamin seperti surga atau neraka kah diri mu kelak. Berjuanglah dengan sesuatu yang belum di jamin dengan memperbanyak beribadah dan berbuat baik. Kita tidak pernah tahu kebaikan yang mana yang akan menyelematkan kita nanti di akhirat.

Hati hati dengan tujuan dunia yang kita paksakan dalam genggaman. Bisa-bisa itulah yang menjatuhkan kita dalam kebinasaan dan menjadi penyesalan terbesar di akhirat kelak serta membutakan kita.
Tanda butanya mata hati adalah ketika kita lebih gigih mengejar apa yang sudah di jamin dan kurang gigih mengejar apa yang belum di jamin.
Ibn Atha'illah As Sakandari

Kita gigih mengejar rezeki, kesuksesan, ketenaran, kepopuleran dan jabatan. Padahal itu sudah menjadi jaminan Allah. Kemudian kita kurang gigih dalam beribadah, melalaikan sholat, kikir, tamak, tidak mau sedekah dan infaq. Bermalas-malasan dalam urusan ibadah tetapi kejar-kejaran, banting tulang dan kerja keras dalam urusan bekerja.

Astagfirullah, semoga allah jauhkan kita semua dari sifat mengejar apa-apa yang sudah Allah jamin dan melupakan apa-apa yang belum Allah jamin.

Belajar dari hikmah menggenggam pasir, apa-apa yang menjadi milik dan takdir kita akan tetap dalam genggaman dan apa-apa yang bukan untuk kita maka akan terlepas dan pergi.

Maka belajarlah untuk menerima dan melepaskan dengan ikhlas dan lapang dada. Semoga ketika kita ridho dengan yang Allah kehendaki maka Allah pun akan ridho kepada kita. Dengan ini insyaallah bahagia akan menjadi milik kita.

Tidak apa-apa semua terlepas dan pergi asal Engkau masih ada bersama ku ya Rabbi.

3 komentar:

  1. Tulisannya reminder sekali buat aku, Kak.
    Dan sekarang, momen shalat menjadi salah satu momen paling relaksasi juga untukku, entah mengapa. Aku yang merindukan berdoa, menjadikan shalat wajib durasinya diperpanjang.. Ah.. Pokoknya bener yang kak Wince bilang
    ..

    BalasHapus
  2. Kakkk aku suka banget Kakak menganalogikan sebuah keinginan dalam sebuah genggaman pasir yang pada amhirnya akan jatuh juga satu ler satu. Artinya vahwaysemya keinginan enggak bisa kita genggam semuanya. Heuheu.

    BalasHapus
  3. Aku suka banget sih sama setiap tulisan kakak, seperti mengingatkan. Aku setujuh sama kak Vina, aku suka sama cara penganalogian kakak.

    BalasHapus

3 K dalam Hidup

Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji hanya milik Allah. Dia yang maha atas segala. Memberikan apa-apa yang menjadi kebutuhan kita, bukan k...