https://diarywinrie.com diary winrie: Tulat waktunya pulang kampung

Minggu, 19 Juni 2022

Tulat waktunya pulang kampung

Tulat

Berbeda provinsi tetapi berdekatan


‘Bismillahirrahmanirrahim, Adek dan Abang yuk berdo’a kepada Allah. Semoga perjalanan pulang kita selamat sampai tujuan. Minta allah temani di perjalanan nanti dan titip apa-apa yang kami tinggalkan di sini”. Selalu seperti itu yang saya sampaikan kepada Anak-anak ketika mobil mulai di gas oleh pak suami.

Moment pulang kampung saat lebaran adalah moment yang selalu kami tunggu setiap tahunnya. Meskipun kami sekeluarga sering pulang ke tempat orang tua kami di Kerinci. Bahkan kadang-kadang orang tua kami pun sering mengunjungi kami ke Mukomuko.

Ini dikarenakan jarak antara Kerinci dengan Mukomuko lumayan dekat dan hanya menempuh perjalanan kurang lebih empat jam. Kerinci salah satu Kabupaten di Provinsi Jambi yang terletak pada wilayah perbatasan provinsi Jambi dan Sumatera Barat. Sedangkan Mukomuko salah satu Kabupaten baru di Provinsi Bengkulu yang terletak pada wilayah perbatasan provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat.Letak yang berdekatan inilah yang membuat kami mudah untuk pulang kampung mengunjungi orang tua kami.

Buah dari kesabaran

Lebaran tahun ini terasa berbeda dibandingkan dengan lebaran sebelumnya. Karena lebaran tahun ini kami semua bisa berkumpul bersama setelah beberapa tahun sebelumnya terikat dengan aturan pandemi covid-19.

Selain itu tahun ini adek saya yang sudah delapan tahun di Jawa Timur memutuskan pulang ke Sumatera dan tidak kembali lagi ke Jawa. Alhamdulillah Allah menjawab do’a-do’a kami selama ini.

Delapan tahun lalu setiap lebaran hanya air mata yang menetes ketika video call. Memohon maaf lahir dan bathin hanya lewat telpon. Rasanya kebahagiaan kami belum lengkap jika belum berkumpul bersama. Setiap do’a yang kami lantunkan adalah harapan suatu hari nanti entah di lebaran kapan kami akan Allah kumpulkan merayakan hari kemenangan.

Kepulangan sosok yang di rindu

Akhirnya setelah dua tahun ragu memutuskan untuk kembali ke Sumatera atau menetap di Jawa. Adek saya beserta istri dan anaknya memutuskan pulang ke Sumatera tepatnya ke Mukomuko di daerah tempat tinggal saya. Tadinya dari Jawa mau langsung pindah ke Kerinci, setelah di pikir-pikir dan dipertimbangkan. Dia pun memilih akan menetap di Mukomuko dan alhamdulillah orang tua saya juga setuju dengan pilihannya.

Hati ini begitu senang membayangkan sosok yang sangat dirindukan ini. Karena kami hanya tiga bersaudara. Dia adalah anak kedua dan laki-laki satu-satunya di keluarga saya. Apalagi membayangkan keponakan saya yang sudah berumur tiga tahun belum pernah saya temui. Selama ini kontak hanya lewat video call saja.

Minggu pagi tepatnya dua minggu sebelum lebaran pesawat dari jakarta mendarat di Bandara International Sumatera Barat. Alhamdulillah, mereka pun sampai dengan selamat. Bapak, Ibu dan Adik bungsu yang menjemput mereka ke Bandara. Mereka sudah tidak sabar ingin memeluk dan menggendong cucunya yang imut dan cantik itu.

Sementara saya saat itu tidak bisa ikut menjemput karena lagi ada tugas dinas luar kota. Setelah sarapan dan main sebentar dipantai Padang. Mereka melanjutkan perjalanan ke Mukomuko. Ini pertama kalinya mereka ke tempat saya, diperjalanan mereka merasa heran melihat biji buah sawit yang berserakan di pinggir jalan, yang biasanya kami sebut brondol sawit. Biji sawit yang terpisah dari tandannya dan berserakan di bekas tumpukan sawit yang sudah di jual atau ditimbang oleh toke sawit. Brondolan sawit ini akan dikumpulin oleh orang-orang yang kerjanya memang mencari brondol dan dijual ke Toke sawit dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan  dengan sawit yang masih di tandannya.

Hari pertama di Mukomuko

Pagi ini saya pun menyiapkan sarapan bubur tepung atau bubur sum-sum yang terbuat dari tepung arurat kemudian dikasih air gua aren. Sarapan bubur menjadi pilihan ketika saya sudah tidak sempat menyiapkan sarapan pagi karena keburu telat berangkat ke rumah sakit. Biasanya kalau ada tamu yang datangnya subuh atau pagi hari, saya hanya akan keluar membelikan sarapan untuk tamu tersebut. Pilihan saya biasanya Bu De bubur yang lumayan dekat dari rumah.

Sebenarnya pilihan sarapannya banyak, ada bubur kacang hijau, bubur ketan, bubur sum-sum atau campuran semua bubur kacang hijau, ketan dan sum-sum. Hanya saja saya lebih suka memilih bubur sum-sum karena ini juga kesukaannya anak-anak.

Semakin ditahan semakin rindu

Setelah hampir seminggu di Mukomuko, waktu yang kami tunggu-tunggu pun sampai yaitu pulang kampung ke Kerinci Alam Sakti. Saya saja yang hampir setiap dua bulan sekali pulang masih sering menangis merindukan rumah dan orang tua saya. Apalagi ketika saya telpon menanyakan kabar mereka. Mereka menangis menceritakan keluhan dan rasa sakit mereka.

Apalagi adek saya yang sudah delapan tahun tidak pulang. Tak terbayangkan oleh saya bagaimana rindunya dia dengan rumah tempat kami dibesarkan, merindukan makanan yang dulu mungkin menjadi rebutan dan merindukan orang tua yang sudah mulai sakit-sakitan.

Sepertinya tulat menjadi waktu yang sangat lama dibandingkan dengan waktu delapan tahun di Jawa. Saya bisa merasakan kerinduannya untuk pulang kampung. Ada linangan air mata ketika dia video call dengan orang tua saya, karena orag tua saya setelah menjemputnya dari Bandara. Mereka langsung pulang kerinci pada sore itu juga. Karena Amak masih harus mengejar menunggu masa pesiun beliau.

Berarti seminggu ini, kami sudah terpisah lagi. Amak, bapak dan adik bungsu sudah di Kerinci sementara kami masih di Mukomuko. Seminggu inipun kami sibuk mencari kontrakan untuk Adek saya. Saya tahu mungkin ia tak bisa tidur membayangkan “kapan saya akan sampai di Kerinci?”. Pastinya pikiran dan perasaan sudah duluan sampai di Kerinci.

Jangankan dia, saya dan anak-anak juga seperti itu, itu sebabnya saya jarang memberitahu anak-anak kalau mau pulang Kerinci. Mereka akan sering bertanya “Ma, kapan kita pulang?” hampir setiap hari akan mereka tanya. Apalagi Adek yang belum paham waktu dan hari. Sudah kita jelaskan hari Selasa kita pulang Kerinci. Namun tetap akan di tanyanya setiap hari kepada kita. “Ini hari selasa Ma?, kita pulang Kerinci yook Ma” bahasa Adek sehari-hari menjelang pulang.


Menuju Kerinci Alam Sakti

Sampailah kami pada hari ini pulang kampung melabuhkan rindu kepada orang tua dan keluarga lainnya. Tidak sabar ingin bersilatuhmi lebaran ini dengan seluruh anggota keluarga yang sudah sekian lama tak berjumpa.

Di perjalanan pulang kami banyak membahas sekitar kehidupan masyarakat di Mukomuko dan Kerinci. Membandingkan kehidupan ekonomi di Mukomuko dan Kerinci. Ini sengaja kami ceritakan kepada nya agar dia lebih mantap menentukan pilihan usaha. Menentukan usaha apa yang akan di rintisnya kembali di Sumatera. Ngobrol santai sambil menyandarkan diri di kursi mobil yang berbusa dan baru diganti pembungkusnya. Lumayanlah terlihat lebih baru dan nyaman dari sebelumnya.

Diperjalanan kami berhenti untuk berbuka puasa kemudian melanjutkan perjalanan kembali. Menunggu waktu berbuka puasa, saya sempat mengintip grup wag komunitas one day one post. Menegecek whataps apakah ada info terbaru tentang tantangan atau kewajiban BW hari ini. Teakut ketinggalan informasi. Jadi harus sering-sering negcek meski kadang lupa membintangi chat yang penting. Hehe.


Dingginnya Kerinci

Malam ba’da Isya kami sampai di Kerinci tempat orang tua saya. Hawa dingin mulai terasa menusuk ke tulang. Jaket dan selimut tebal adalah dua hal yang dicari dan tidak ingin lepas ketika malam dan pagi hari. Kampungku siulak mukai menjadi dingin karena terletak dekat di bawah kaki gunung Kerinci.

Alhamdulillah allah selamatkan kami sampai di Rumah. Sambil rebahan saya mengingat perjalanan pulang Kerinci menjadi sesuatu yang menyeramkan, apalagi hujan. Karena medan jalan yang kami tempuh adalah tebing yang tinggi dan sebelahnya adalah jurang.

Jika lonsor bisa langsung masuk ke jurang. Ngeri dan menakutkan membanyangkannya. Semua bisa menjadi tenang dan lebih santai, karena kebiasaan sebelum berangkat pasti kami minta di temani sama Allah. Jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sekalipun saya yakin Allah bersama kami dan ini pasti atas izin-Nya. Sehingga menjadi sangat tenang melewati jalanan yang penuh resiko ini.
Keluarga

Bahagia bersama lebaran ini

Lebaran tahun kemaren adalah lebaran paling bahagia kami berkumpul dengan semua anggota keluarga. Saling bersilaturrahmi dan bermaaf-mafan. Apalagi di lebaran kedua, hari ini menjadi moment yang sangat indah. Seperti lebaran sebelumnya lebaran kedua semua anggta keluarga dari Amak ataupun Bapak akan berkumpul di rumah orang tua saya untuk syukuran, mendoa dan makan bersama-sama setelah pulang dari ziarah. Tahun ini insyaallah tidak ada raut sedih di wajah Amak karena anak laki-lakinya sudah bisa ikut menikmati masakannya.

Raut puas dan bahagia penuh senyuman yang saya lihat di mukanya. Penuh semangat menyiapkan makanan untuk mendoa. Karena dia senang kali ini yang dimasak semua menu adalah request-an Adek saya seperti : Dendeng Batokok, Cabe Suhin (cabe dari daun surian yang sudah dihancurkan dan dicampur rebung), dan Rendang Padang.

Alhamdulillah lebaran tahun ini menjadi kenangan terindah bahagia bersama, melepaskan rindu bertemu keluarga (WS)

Tantangan ODOP
Tema : Pulang Kampung
Kata Kunci : biji, busa, arurat, tulat dan komunitas one day one post

4 komentar:

  1. Moment pulang kampung memang sangat memyenangkan, dan bikin berebes mili kadan2 ya, mba, apalagi jauh sama orangtua.

    BalasHapus
  2. ya benar mba nita. semakin sering pulang akan semakin rindu untuk pulang kampung

    BalasHapus
  3. Momen mudik tahun ini memang berbeda ya mbak Wince. Rasanya rindu yang sudah menggunung ini harus dituntaskan

    BalasHapus
  4. Waah enak banget, Kak, punya kampung yang enggak jauh dari kota jadi enggak menempuh waktu lama untuk sampai. Melepas rindu pun tidak perlu ditahan terlalu lama

    BalasHapus

3 K dalam Hidup

Bismillahirrahmanirrahim.. Segala puji hanya milik Allah. Dia yang maha atas segala. Memberikan apa-apa yang menjadi kebutuhan kita, bukan k...